Original Posted By ridhohimovich¬†ada pertanyaan Puh misal aku masih pada tahap pencarian “Aku” untuk doa yg ditujukan kepada Yang Maha Kuasa apakah cara berdoanya juga lewat visualisasi kemudian dari “aku” meminta langsung kepada Yang Maha Kuasa atau ditujukan ke “Aku” yg kemudian disampaikan kepada Yang Maha Kuasa?

duluuuuu, sebelum masa pencerahan…,
ane selalu saat ucapan doa selalu memakai kata “hamba”, “saya”,”kulo” (bahasa jawa = aku) ,
tetapi setelah mengetahui bahwa diri sejati adalah Yang Maha Suci / RUH SUCI.., ucapan permohonan kepada Yang Maha Kuasa diganti “Ingsun”, “Yang Maha Suci”…
misal karena ane org jawa, maka pakai bahasa jawa… :

  • “Kesalahanipun Yang Maha Suci nyuwun ngapura Yang Maha Kuasa” (artinya : Kesalahan Yang Maha Suci(‘AKU’ / Ruh Suci) , mohon ampunan kepada Yang Maha Kuasa) ,
  • Ingsun nyuwun dateng Yang Maha Kuasa supados ‘nama orang tua yang sudah meninggal’ diampuni kesalahipun lan saget sampurna ketampi alam langgeng… (‘saya/ruh suci” mohon kepada Yang Maha Kuasa supaya ‘nama orang tua yang sudah meninggal’ diampuni kesalahannya dan bisa sempurna diterima di surga/alam langgeng)…
  • Yang Maha Suci nyuwun dateng Yang Maha Kuasa supados “nama anak” diparingi keluhuran budi… (“Yang Maha Suci/Ruh Suci” mohon kepada Yang Maha Kuasa agar “nama anak” diberikan keluhuran budi pekerti)

untuk permohonan kepada Yang Maha Kuasa, pakai kata aku dengan “Yang Maha Suci” atau “Ingsun” walaupun masih di tahap “aku”….
untuk masalah keinginan dunia, visualisasi aja.., mau mohon lgs masalah duniawi ke Yang Maha Kuasa jg gpp / ga dilarang ….

Penyembahan tentang “Tuhan” di dunia ini, yang umum adalah “aku/hamba” menyembah kepada “AKU”/”GUSTI PANGERAN”,dll…..,dan permintaannya / doa hanya berkisar pada duniawi atau masuk surga yang disimbolisasi dengan “kenikmatan seperti di duniawi”…¬†

untuk orang-orang yang mengalami pencerahan dan mengetahui siapa yang harus disembah mereka akan menyembah kepada Yang Maha Kuasa… ,

coba agan baca-baca tentang kisah sufi-sufi “nyeleneh” yang menyebut dirinya “AKU” sehingga berani sampai dihukum mati…
sebab kisah sufi tersebut memang untuk petunjuk bagi orang-orang di masa depan saat menemukan “AKU”, karena awalnya pasti bingung pemahaman ini beda dengan pemahaman orang-orang pada umumnya karena menemukan “AKU” di dalam badan “aku”duluuuuu, sebelum masa pencerahan…,
ane selalu saat ucapan doa selalu memakai kata “hamba”, “saya”,”kulo” (bahasa jawa = aku) ,
tetapi setelah mengetahui bahwa diri sejati adalah Yang Maha Suci / RUH SUCI.., ucapan permohonan kepada Yang Maha Kuasa diganti “Ingsun”, “Yang Maha Suci”…
misal karena ane org jawa, maka pakai bahasa jawa… :

  • “Kesalahanipun Yang Maha Suci nyuwun ngapura Yang Maha Kuasa” (artinya : Kesalahan Yang Maha Suci(‘AKU’ / Ruh Suci) , mohon ampunan kepada Yang Maha Kuasa) ,
  • Ingsun nyuwun dateng Yang Maha Kuasa supados ‘nama orang tua yang sudah meninggal’ diampuni kesalahipun lan saget sampurna ketampi alam langgeng… (‘saya/ruh suci” mohon kepada Yang Maha Kuasa supaya ‘nama orang tua yang sudah meninggal’ diampuni kesalahannya dan bisa sempurna diterima di surga/alam langgeng)…
  • Yang Maha Suci nyuwun dateng Yang Maha Kuasa supados “nama anak” diparingi keluhuran budi… (“Yang Maha Suci/Ruh Suci” mohon kepada Yang Maha Kuasa agar “nama anak” diberikan keluhuran budi pekerti)

untuk permohonan kepada Yang Maha Kuasa, pakai kata aku dengan “Yang Maha Suci” atau “Ingsun” walaupun masih di tahap “aku”….
untuk masalah keinginan dunia, visualisasi aja.., mau mohon lgs masalah duniawi ke Yang Maha Kuasa jg gpp / ga dilarang ….

Penyembahan tentang “Tuhan” di dunia ini, yang umum adalah “aku/hamba” menyembah kepada “AKU”/”GUSTI PANGERAN”,dll…..,dan permintaannya / doa hanya berkisar pada duniawi atau masuk surga yang disimbolisasi dengan “kenikmatan seperti di duniawi”…¬†

untuk orang-orang yang mengalami pencerahan dan mengetahui siapa yang harus disembah mereka akan menyembah kepada Yang Maha Kuasa… ,

coba agan baca-baca tentang kisah sufi-sufi “nyeleneh” yang menyebut dirinya “AKU” sehingga berani sampai dihukum mati…
sebab kisah sufi tersebut memang untuk petunjuk bagi orang-orang di masa depan saat menemukan “AKU”, karena awalnya pasti bingung pemahaman ini beda dengan pemahaman orang-orang pada umumnya karena menemukan “AKU” di dalam badan “aku”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *